Pada tanggal 6 Januari, Gereja-Gereja Katolik Timur yang menggunakan Ritus Bisantin dan Kalender Gregorian merayakan “Hari Raya Theofani Suci”. Hari Raya ini merupakan puncak dari Masa Natal Kelahiran Tuhan Yesus Kristus (12 hari setelah Natal). Dan pada tanggal ini pula, Gereja Katolik Romawi merayakan “Hari Raya Epifania”, Hari Raya Penampakan Tuhan Yesus Kristus kepada 3 Raja dari Timur.
Secara singkat, Hari Raya Theofani Suci memiliki 3 makna yang sangat penting :
1. Hari Raya Theofani Suci merupakan puncak pemberitaan kedatangan Tuhan Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia, secara terbuka kepada umat manusia. Pemberitaan ini diawali saat Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus Kristus (jatuh pada tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian) oleh Para Malaekat kepada para gembala di padang, serta perjumpaan 3 Raja dari TImur dengan Bayi Yesus di Bethlehem. Dan pemberitaan ini berpuncak Pada Hari Raya Theofani Suci (jatuh pada tanggal 6 Januari dalam Kalender Gregorian) yang merayakan saat-saat Tuhan Yesus Kristus yang saat itu telah menginjak usia 30 tahun dibaptis di Sungai Yordan, dimana Allah dengan jelas menyatakan status Yesus Kristus kepada khalayak ramai. Setelah pengenalan dan pemunculan Tuhan Yesus Kristus di muka umum tersebut, maka dimulailah karya Tuhan Yesus Kristus di muka umum. Pada tanggal 6 Januari, Gereja Katolik Romawi merayakan perjumpaan Kristus dengan 3 Raja dari Timur (Epifani). Tidak ada pertentangan antara Hari Raya Theofani Suci dan Hari Raya Epifania.
2. Hari Raya Theofani Suci menyingkapkan rahasia iman tentang adanya 3 Pribadi Ilahi dalam 1 Allah, yaitu Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Ke-3 Pribadi Ilahi ini dinyatakan dan disingkapkan secara serentak dan untuk pertama kalinya pada peristiwa Pembaptisan Kristus. Dimana Putra yang adalah Firman Allah yang menjadi manusia telah hadir di tengah umat manusia dan menyatakan diri-Nya di tengah umat manusia. Roh Kudus yang keluar dari Bapa turun dalam rupa seperti burung merpati ke atas diri Yesus Sang Putra. Dan Bapa menyatakan diri-Nya dalam wujud suara dari Surga yang menyatakan secara jelas jati diri Yesus Kristus sebagai Putra-Nya yang terkasih. Karena pada peristiwa Pembaptisan Tuhan ini terjadi penyingkapan dan pernyataan 3 Pribadi Illahi 1 Allah, maka peristiwa iman ini disebut sebagai Hari Raya Theofani Suci.
Maka pada Hari Raya Theofani Suci, Gereja mengangkat puji-pujian untuk mengagungkan Allah dan bersyukur atas karunia penyingkapan rahasia ini.
“Tuhan, ketika Engkau dibaptis di Sungai Yordan, penyembahan Sang Tritunggal disingkapkan. Karena suara Bapa menyaksikan-Mu, menyebut-Mu sebagai Anak Terkasih. Dan Sang Roh, dalam rupa seperti seekor burung dara, meneguhkan Firman-Nya yang benar. Ya Kristus, Allah, yang telah menyatakan diri dan menerangi dunia : Kemuliaan bagi-Mu!” ~ Puji-pujian Apolitikon saat Pembaptisan Tuhan, Katolik Timur Ritus Bisantin.
3. Hari Raya Theofani Suci mengingatkan kembali nilai dari pembaptisan. Pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis sangatlah berbeda dengan Pembaptisan Yesus Kristus. Pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis adalah baptis pertobatan dari dosa. Yesus Kristus tidak berdosa, namun Ia bersedia dibaptis sebagai tanda solidaritas-Nya dengan manusia; untuk mengkuduskan air sebagai tanda sakramental; dan untuk mengkuduskan manusia yang dibaptis agar berhak menerima keselamatan dari-Nya. Dengan baptis, manusia berhak menerima dan ikut berpartisipasi dalam hidup Allah sendiri yang kudus dan menyelamatkan. Kristus dibaptis, maka kita semua pun dibaptis. Kristus datang merubah semua ciptaan menjadi ciptaan yang baru. Karena dengan baptis, kita dimeteraikan menjadi anak-anak angkat Allah. Kita menjadi serupa dengan Kristus yang adalah Anak Sejati Allah. Menjadi satu dengan-Nya. Seolah-olah mengenakan Dia. Dengan baptis, kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Itu adalah harta yang tak terhingga yang kita dapatkan melalui Baptisan. Dan baptisan bukanlah suatu tujuan akhir, melainkan awal dari suatu hidup baru dalam Kristus. Dengan baptisan, kita memulai suatu hidup baru dalam Allah dan dipanggil dalam tugas perutusan yang membawa rahmat, kebaikan dan keselamatan bagi seluruh jagad. Panggilan ini adalah panggilan kekudusan, yang berpuncak pada Theosis yaitu persatuan mesra dengan Allah sendiri yang tentu sepanjang waktu akan menjadi proses panjang yang harus dilalui semua orang yang dibaptis. Persatuan ini akan paripurna saat kedatangan Kristus kedua kali di akhir jaman nanti.
Maka untuk mengingat selalu keistimewaan dan tanggung jawab yang didapatkan manusia dari baptis, Gereja mengangkat puji-pujian berikut :
“Semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus! Alleluia!” (Gal 3:27)
“All of you who have been baptised into Christ have put on Christ. Alleluia!”
“Ossi garis khriston evaptis tite, khriston enethi ssaste, alleluia!”
Bapa Suci Benediktus XVI pernah mengatakan, "Apakah yang terjadi dalam pembaptisan? Kita dipersatukan selamanya dengan Kristus, dan dilahirkan kembali dalam hidup yang baru".
Bapa Suci Benediktus XVI pernah mengatakan, "Apakah yang terjadi dalam pembaptisan? Kita dipersatukan selamanya dengan Kristus, dan dilahirkan kembali dalam hidup yang baru".
( Ditulis oleh : DCS Evangelismos Katolik Timur. Referensi : Berbagai sumber Katolik Timur. Sumber film : courtesy of domkov91 via Youtube )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar